Welcome! Thanks for VISIT!

Hi, Please check out my blog archive^^! And don't forget to comment to each articles you've read, or report the broke download link through your comment. Thank You!^^

Saturday, February 18, 2012

Unbreakable Love. Part 1: Anak baru yang ngaco!

Halooo semua!! Postingan hari ini waktunya FanFic! Nah, FanFic kali ini tentang Ilham Fauzie SMASH! *applause* =D Yang ilhamfever wajib baca yaah! P.S. Cerita ini akan berlanjut lhoh! So stay tune to the next story!
Hai! Namaku Avera Sawaria. Saat ini, benar-benar saat ini, aku baru duduk di bangku SMA kelas XI. Aku bersekolah di SMA Biru Berlian (BiBer). Hn.. memang aneh nama sekolahku ini, (jangan heran saja, ya!). Namun lebih aneh lagi kalo seseorang yang ngaco masuk ke kelas XI-3 IPA-ku. Yup! Anak baru. Heran sekali, tiba-tiba saja anak ini diizinkan masuk oleh walasku, tanpa aku mengetahui anak ini telah ikut tes, atau belum. Barangkali, sudah ikut tes dari awal tanpa sepengetahuan aku dan teman-teman—karena biasanya gossip cepat menyebar di sini, atau mungkin—yaa anak ini menggunakan fulus-nya untuk masuk bersekolah di sini.
Aku belum mengetahui pasti siapa sebenarnya anak aneh ini—namanya, latar belakang keluarganya, atau bahkan alasannya untuk masuk (atau pindah, mungkin) ke SMA BiBer. Namun, hari ini—tepat hari selasa, hari kedua ia bersekolah—aku akan segera mengetahuinya. Ngomong-ngomong, kemarin, aku melihat benda terjatuh dari saku celana abu-abu si anak baru. Mungkin dia tidak merasa sesuatu dari saku besarnya itu terjatuh. Setelah ia berlalu, aku langsung menyambar benda itu dari tanah. Kalung.
____
Tepat setelah bel istirahat berbunyi nyaring di telingaku. Aku langsung menyambar bangku anak baru—yang begitu cepatnya telah dikerumuni cewek-cewek—itu. Aku menepis teman-temanku yang mengerumuni anak baru. “Permisi.. permisi..”
Aku menyibakkan rambut panjangku. “Eh, kamu!” mataku berputar, mulutku terasa gugup saat akan mengatakan kalimatku selanjutnya. “Iya! Kamu! Anak baru, temuin aku di Taman Selatan sekitaar ..,” aku mengecek arlojiku. “Limaa-bela-as menit lagi! Ada perlu pokoknya.” Aku langsung memutar tubuhku dan berjalan cepat menuju Taman Selatan. Kedua tanganku mengatup menutupi wajahku. Oh, betapa malunya aku. Aku selalu tergagap kapan pun aku bicara dengan seorang cowok.
Di tengah koridor, salah satu cewek yang mengerumuni anak baru datang menghampiriku. “Eh, Ver! Loe gak tau siapa anak baru itu?” langkahku terhenti.
“Memangnya siapa dia?! Dia hanya anak baru, dan aku ada perlu dengannya. Secara, aku kan ketua kelas!” entah bagaimana, mungkin suaraku terdengar kesal di telinganya, Rizu. Lalu aku berjalan lagi.
“Iya, iya, gue tau loe ketua kelas.” Dia menghentikanku, tapi aku mengelak. “Tapi, serius! Loe bener-bener gak tau siapa dia?” kalimatnya membuatku mau berhenti dan mendengarkannya.
“Oke, oke. Silahkan kamu jelasin ke aku siapa dia.”
“Dia itu ILHAM FAUZIE! Anggota dari SMASH—yang somehow dia pindah dari sekolah lamanya.”
Emang peduli apa kalo—siapa tuh namanya?”
“ILHAM!”
“Nah itu lah pokoknya. Emang peduli apa aku, kalo dia artis … Apaan tuh? Semesh?
SMASH!
Ya, terserah.
Rizu, lalu, berhenti bicara dan aku pun melanjutkan perjalananku menuju Taman Selatan.
___
Aku duduk di koridor yang mengitari taman. Lalu Ilham datang menepuk bahu kiriku. “Heh! Loe anak yang tadi nyuruh gue ke sini, kan?” serunya lalu duduk di sampingku.
Tanganku menggenggam erat kalung yang kemarin ia jatuhkan. Seperti biasa, aku harus memikirkan kata-kata dulu sebelum aku bicara dengan seorang cowok. “Ya, aku yang nyuruh kamu.” Aku mengatupkan bibirku. Masih memegang erat kalungnya.
“Oh jadi ini Taman Selatan.” Katanya sembari menyapu sekitar taman dengan bola matanya.
“Emang loe baru tahu?—eh—maksudku emang kamu baru ngerti? Terus gimana kamu bisa nyampe sini?”
Matanya beradu dengan mataku. “Hah? Cara bicara loe aneh!” ia menaikkan kacamata—mungkin minus—nya. “Biasa lah, pake cara lama, tanya penduduk sekitar. Loe ngapain nyuruh gue ke sini? Gue ada urusan yah sama loe?”
Gue—eh—aku rasa kamu jatuhin ini deh kemarin.” Aku menggelantungkan kalungnya di tangan kananku. “Ini punyamu kan?”
Matanya membelalak. “Oh iya, emang punya gue dulu.”
“Dulu?”
“Iya, dulu. Sekarang itu jadi milik loe.” Ia menunjuk ke arah kalung yang masih ku genggam.
“Milik gue, eh, aku? Apa maksud kamu?!”
Mata Ilham tampak kebingungan. “Hn… Itu sekarang gue kasih ke loe! Dan loe harus simpan itu jauh jauh dari gue!” Dia menghentakkan kakinya, lalu berdiri dan meninggalkan aku secepat kilat.
Hanya begitu saja? Maksudku, GAK menanyakan namaku SAMA SEKALI?! Gak sopan banget!
Eh, lebih baik aku apain yah kalung ini? Ini terlalu bagus. Kalung ini sepertinya terbuat dari berlian. Berlian itu membentuk huruf seperti inisial namaku, A. Apa iya sih, … seseorang yang juga berinisial A ini telah menghancurkan Ilham, atau semacamnya? Kenapa aku begitu yakin kalau Ilham punya dendam kesumat dengan kalung ini? Kalau memang iya Ilham punya masalah sama kalung ini, mana mungkin kemarin dia mengantongkan di sakunya kemarin? Kenapa tidak langsung ia buang saja dari dulu? Tuh, tambah ngaco kan anak baru ini!

No comments:

Post a Comment

Lights Of Heaven - AppStarting