Halooo semua!! Postingan hari ini waktunya FanFic! Nah, FanFic kali ini tentang Ilham Fauzie SMASH! *applause* =D Yang ilhamfever wajib baca yaah! P.S. Cerita ini akan berlanjut lhoh! So stay tune to the next story!
Hai! Namaku Avera Sawaria. Saat ini, benar-benar saat ini,
aku baru duduk di bangku SMA kelas XI. Aku bersekolah di SMA Biru Berlian
(BiBer). Hn.. memang aneh nama sekolahku ini, (jangan heran saja, ya!). Namun
lebih aneh lagi kalo seseorang yang ngaco masuk ke kelas XI-3 IPA-ku. Yup! Anak
baru. Heran sekali, tiba-tiba saja anak ini diizinkan masuk oleh walasku, tanpa
aku mengetahui anak ini telah ikut tes, atau belum. Barangkali, sudah ikut tes
dari awal tanpa sepengetahuan aku dan teman-teman—karena biasanya gossip cepat
menyebar di sini,
atau mungkin—yaa anak ini menggunakan fulus-nya untuk masuk bersekolah di sini.
Aku belum mengetahui pasti siapa sebenarnya anak aneh
ini—namanya, latar belakang keluarganya, atau bahkan alasannya untuk masuk
(atau pindah, mungkin) ke SMA BiBer. Namun, hari ini—tepat hari selasa, hari
kedua ia bersekolah—aku akan segera mengetahuinya. Ngomong-ngomong, kemarin,
aku melihat benda terjatuh dari saku celana abu-abu si anak baru. Mungkin dia
tidak merasa sesuatu dari saku besarnya itu terjatuh. Setelah ia berlalu, aku
langsung menyambar benda itu dari tanah. Kalung.
____
Tepat setelah bel istirahat berbunyi nyaring di telingaku.
Aku langsung menyambar bangku anak baru—yang begitu cepatnya telah dikerumuni
cewek-cewek—itu. Aku menepis teman-temanku yang mengerumuni anak baru.
“Permisi.. permisi..”
Aku menyibakkan rambut panjangku. “Eh, kamu!” mataku
berputar, mulutku terasa gugup saat akan mengatakan kalimatku selanjutnya.
“Iya! Kamu! Anak baru, temuin aku di Taman Selatan sekitaar ..,” aku mengecek
arlojiku. “Limaa-bela-as menit lagi! Ada perlu pokoknya.” Aku langsung memutar
tubuhku dan berjalan cepat menuju Taman Selatan. Kedua tanganku mengatup
menutupi wajahku. Oh, betapa malunya aku. Aku selalu tergagap kapan pun aku
bicara dengan seorang cowok.
Di tengah koridor, salah satu cewek yang mengerumuni
anak baru datang menghampiriku. “Eh, Ver! Loe gak tau siapa anak baru itu?”
langkahku terhenti.
“Memangnya siapa dia?! Dia hanya anak baru, dan aku
ada perlu dengannya. Secara, aku kan ketua kelas!” entah bagaimana, mungkin
suaraku terdengar kesal di telinganya, Rizu. Lalu aku berjalan lagi.
“Iya, iya, gue tau loe ketua kelas.” Dia menghentikanku,
tapi aku mengelak. “Tapi, serius! Loe bener-bener gak tau siapa dia?”
kalimatnya membuatku mau berhenti dan mendengarkannya.
“Oke, oke. Silahkan kamu jelasin ke aku siapa dia.”
“Dia itu ILHAM FAUZIE! Anggota dari SMASH—yang somehow dia pindah dari sekolah
lamanya.”
“Emang peduli apa kalo—siapa tuh namanya?”
“ILHAM!”
“Nah itu lah pokoknya. Emang peduli apa aku, kalo
dia artis … Apaan tuh? Semesh?”
“SMASH!”
“Ya, terserah.”
Rizu, lalu, berhenti bicara dan aku pun melanjutkan perjalananku
menuju Taman Selatan.
___
Aku duduk di koridor yang mengitari taman. Lalu Ilham
datang menepuk bahu kiriku. “Heh! Loe anak yang tadi nyuruh gue ke sini, kan?”
serunya lalu duduk di sampingku.
Tanganku menggenggam erat kalung yang kemarin ia
jatuhkan. Seperti biasa, aku harus memikirkan kata-kata dulu sebelum aku bicara
dengan seorang cowok. “Ya, aku yang
nyuruh kamu.” Aku mengatupkan bibirku. Masih memegang erat kalungnya.
“Oh jadi ini Taman Selatan.” Katanya sembari menyapu
sekitar taman dengan bola matanya.
“Emang loe baru
tahu?—eh—maksudku emang kamu baru ngerti? Terus gimana kamu bisa nyampe sini?”
Matanya beradu dengan mataku. “Hah? Cara bicara loe aneh!”
ia menaikkan kacamata—mungkin minus—nya. “Biasa lah, pake cara lama, tanya penduduk sekitar. Loe ngapain nyuruh gue
ke sini? Gue ada urusan yah sama loe?”
“Gue—eh—aku
rasa kamu jatuhin ini deh kemarin.” Aku menggelantungkan kalungnya di tangan
kananku. “Ini punyamu kan?”
Matanya membelalak. “Oh iya, emang punya gue dulu.”
“Dulu?”
“Iya, dulu. Sekarang itu jadi milik loe.” Ia menunjuk
ke arah kalung yang masih ku genggam.
“Milik gue, eh, aku? Apa maksud kamu?!”
Mata Ilham tampak kebingungan. “Hn… Itu sekarang gue kasih ke loe! Dan loe harus simpan itu jauh jauh dari gue!” Dia menghentakkan kakinya, lalu berdiri dan meninggalkan aku secepat kilat. Hanya begitu saja? Maksudku, GAK menanyakan namaku SAMA SEKALI?! Gak sopan banget!
Eh, lebih
baik aku apain yah kalung ini? Ini terlalu bagus. Kalung ini sepertinya terbuat
dari berlian. Berlian itu membentuk huruf seperti inisial namaku, A. Apa iya
sih, … seseorang yang juga berinisial A ini telah menghancurkan Ilham, atau
semacamnya? Kenapa aku begitu yakin kalau Ilham punya dendam kesumat dengan kalung ini? Kalau memang iya Ilham punya
masalah sama kalung ini, mana mungkin kemarin dia mengantongkan di sakunya
kemarin? Kenapa tidak langsung ia buang saja dari dulu? Tuh, tambah ngaco kan
anak baru ini!
Mata Ilham tampak kebingungan. “Hn… Itu sekarang gue kasih ke loe! Dan loe harus simpan itu jauh jauh dari gue!” Dia menghentakkan kakinya, lalu berdiri dan meninggalkan aku secepat kilat. Hanya begitu saja? Maksudku, GAK menanyakan namaku SAMA SEKALI?! Gak sopan banget!

No comments:
Post a Comment